Rabu, 29 April 2009

Artikel Perempuan

Peran Perempuan Membentuk Negara yang Kokoh


“Perempuan adalah tiang Negara ” perkataan ini merupakan sebuah junjungan tertinggi bagi kaum hawa, walaupun pada kenyataanya kaum adam memiliki postur tubuh yang lebih kuat dibandingkan kaum hawa tetapi bukan mereka yang menjadi tiang suatu Negara, melainkan sosok yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Ada apa sebenarnya dibalik sosok perempuan ?. Dalam kata lain perempuan merupakan cermin suatu Negara dan tonggak yang kokoh, ini mengandung arti bahwa apabila baik perempuan dalam suatu Negara maka baik pulalah Negara itu, tapi apabila buruk maka buruk pulalah Negara itu. Dengan demikian untuk membentuk suatu Negara yang kokoh maka perempuan dalam Negara tersebut haruslah kokoh pula, kokoh dalam hal ini bukan berarti perempuan harus mengeraskan otot lengannya, tetapi perempuan harus menempati peran-peran yang dimilikinya dengan baik tanpa merubah sifat keperempuananya.

Perempuan masa sekarang ini telah diberi kebebasan untuk dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, dengan harapan kebebasan yang diberikan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Terkadang perempuan lupa akan dirinya sendiri, ia bangga memamerkan dan memberikan tubuh moleknya kepada siapa saja, padahal ini sangat berbahaya bagi diri sendiri dan terlebih bagi negara, bukankah baiknya negara jika perempuan yang ada didalamnya juga baik.

Sepanjang sejarah perempuan berjuang untuk mendapatkan hak-haknya. Namun sekarang, kembali mereka terjerumus ke dalam penjajahan yaitu berupa penjajahan modern. Perempuan sekarang telah lupa akan hakekat dirinya, hanya menonjolkan kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya. Lantas apa yang dapat diharapkan dari para perempuan seperti ini? Ini merupakan salah satu tugas perempuan sebagai anggota masyarakat untuk kembali mengingatkan sesama kaumnya. Lisan perempuan akan lebih dapat mengena ke dalam sanubari mereka dibanding lisan pihak lain, untuk mengembalikan identitas mereka sebagai manusia.

Dalam keadaan seperti ini, inilah sebenarnya tugas perempuan yang masih berjalan dalam koridor kebenaran, menjelaskan kepada mereka apa sebenarnya peran yang harus dijalani sebagai sesama perempuan, peran yang tidak melenceng dari kodratnya sebagai perempuan. Bagaimana supaya kebebasan yang telah diberikan kepada perempuan dapat dipergunakan dengan baik tanpa harus melewati batas-batasnya. Perempuan yang masih cerah memberikan pengertian emansipasi yang sebenarnya kepada perempuan yang mungkin salah mengartikan apa itu hakikat emansipasi. Emansipasi bukan halnya harus sama seperti laki-laki, tapi emansipasi yang sebenarnya yaitu bahwa perempuan diberi kebebasan untuk mengembangkan bakatnya baik dalam bidang pendidikan, ekonomi bahkan politik. Cara yang mungkin bisa dilakukan untuk kembali mencerahkan perempuan yang sudah suram yaitu bisa berupa pendekatan, media, pelatihan dan cara lainnya yang diangap bisa bermanfaat. Tugas ini akan berhasil jika yang berperan didalamnya adalah perempuan itu sendiri, perempuanlah yang sebenarnya mengerti apa keinginan perempuan yang lain, apa yang sebenarnya yang membuat perempuan lupa diri dan kebutuhan apa yang diinginkannya.

Secara umum peran perempuan (women’s role) dalam membentuk suatu negara dapat diklasifikasikan kepada dua jenis, yaitu peran yang dimainkan secara langsung (straight role), dan peran tidak langsung (no straight role). Yang dimaksud dengan peran secara langsung adalah peran yang secara langsung dilakukan oleh perempuan dan pengaruhnya langsung dapat dirasakan. Sedangkan peran secara tidak langsung adalah peran yang secara tidak langsung dilakukan perempuan, dan pengaruhnya pun dirasakan secara tidak langsung.

Di Indonesia banyak para tokoh perempuan yang memberikan inspirasi bagi kaum perempuan untuk bisa lebih maju dan bisa mengembangkan potensi dirinya. Berbagai gerakan dan sepak terjang para perempuan untuk menuntut haknya, baik pada masa penjajahan yang ikut serta dalam melawan kolonialis dan imperialis atau sesuadah kemerdeka. Para tokoh tersebut diantaranya seperti Dewi Sartika, Cut Nya’ Din, R.A Kartini dan sebagainya. Ungkapan R.A Kartini “habis gelap terbitlah terang” mampu memberikan inspirasi kepada para perempuan Indonesia untuk ikut andil dalam membangun negaranya, dengan cara tekun menempuh pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi, dan kemudian terjun langsung dalam pembangunan bangsa. Kaum perempuan Indonesia dewasa ini merupakan penerus kaum perempuan era Kartini yang gigih menghilangkan anggapan dan kultur lama yang menganggap perempuan tidak perlu sekolah setinggi mungkin, karena tugasnya hanyalah di sumur, kasur, dan dapur. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang apakah benar kegigihan kartini masih tersisa dalam jiwa perempuan sekarang? Dan siapakah yang akan menjadi penerus kartini yang seutuhnya? Jawabanya adalah kita sendiri, bukan siapa-siapa.

Dalam menempati peran perempuan baik secara langsung atau tidak langsung maka akan dilihat terlebih dahulu peran perempuan dalam objek terkecil, yaitu dalam sebuah keluarga, kemudian masyarakat dan akhirnya terbentuk negara yang baik dan kokoh. Jika semua perempuan mampu membuat keluarga yang baik maka otomatis akan terbentuk suatu masyarakat yang baik pula dan akhirnya jika masyarakat sudah baik otomatis pula negara akan baik, aman dan kokoh.

Dalam keluarga peran perempuan adalah sebagai ibu dan isteri yang baik. Sebagai ibu, ia adalah pendidik pertama seorang anak, ia yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anaknya, dalam hal ini perempuan harus bisa memberikan yang terbaik bagi anaknya, menanamkan nilai-nilai luhur dan budi pekerti yang baik bagi anak-anaknya, sehingga besar kelak anak-anaknya bisa bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Peran ini adalah peran yang sangat penting sebagai dasar pembentukan jiwa para penerus bangsa. Kemudian sebagai seorang isteri, perempuan harus bisa menjadi motivator yang baik bagi suaminya, karena isteri adalah pegaruh terbesar bagi suami. Urgensi perempuan dalam keluarga bukan berarti melumpuhkan potensi perempuan untuk berkiprah dalam masyarakat melainkan antara keluarga dan masyarakat dapat bejalan secara beriringan. Kesibukan mengurusi rumah, suami dan anak diusahakan tidak membuat kita lupa bahwa kita punya masyarakat yang sebenarnya membutuhkan peran sebagai seorang perempuan.

Terbentuknya keluarga yang sakinah adalah dasar terbentuknya masyarakat yang madani. Peran langsung (straight role) yang dapat dimainkan oleh perempuan adalah peran sebagai anggota masyarakat. Perempuan sebagai segmen sigifikan dari sebuah masyarakat hendaknya ikut andil dalam menjaga kesehatan dan keamanan masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, saat seorang perempuan melihat bahwa masyarakatnya mengalami gangguan stabilitas atau terkena penyakit, maka ia harus segera mencari jalan penanggulangannya. Dalam posisi sebagai anggota masyarakat, perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang sama dan setara, yaitu sama-sama berhak menerima perlakuan yang baik dari masyarakat dan sama-sama berkewajiban menciptakan masyarakat yang sehat.

Imam Khomaini mengatakan “Dalam Pandangan Islam, wanita memiliki peranan penting untuk membangun sebuah masyarakat. Islam menjunjung tinggi wanita serta memposisikan kembali kemanusiaannya di tengah masyarakat…..”. Perkataan tersebut mengandung penafsiran bahwa perempuan berhak memperoleh keadilan peran dalam melakukan aktivitas di tengah masyarakat. Perempuan dapat berdampingan dengan laki-laki sebagaimana kesatuan sistem yang saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain. Masing-masing tidak boleh saling merendahkan. Setiap perempuan juga pasti membutuhkan laki-laki dan juga sebaliknya, ada pekerjaan yang bisa dilakukan perempuan tapi tidak bisa dilakukan laki-laki dan juga ada pekerjaan yang bisa dilakukan laiki-laki tapi tidak bisa dilakukan perempuan. Intinya dalam masyarakat keduanya harus saling mendukung dan saling melengkapi.

Lebih umum lagi peran perempuan dapat diturunkan dalam berbagai bidang, antara lain bidang pendidikan, ekonomi dan politik. Dalam pendidikan perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama. Perempuan sangat baik jika terlibat dalam proses pendidikan baik itu formal maupun nonformal, karena sifat kelembutan dan kasih sayangnya lah perempuan akan lebih berhasil mendidik dari pada laki-laki. Sedangkan di bidang ekonomi, perempuan juga dapat berkiprah dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat melalui kerja. Pekerjaan yang dilakukan perempuan dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk, pekerjaan di dalam rumah dan di luar rumah. Kemudian dalam bidang politik, perempuan berhak dalam lembaga eksekutif, legislatif maupun partisipasi dalam pemilu, keterlibatan perempuan dalam keputusan politik merupakan hak natural.

Keberadaan perempuan dalam menjalankan perannya dalam masyarakat memang sangat berharga dan memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan masyarakat dan bangsa, tetapi bukan berarti tindak tanduknya tidak memiliki batasan-batasan yang ditentukan oleh islam, karena islam tetap mengatur segala aspek prilaku manusia, secara individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat..

Etika bermasyarakat yang diserukan di dalam Islam di antaranya: Pertama, mengindahkan norma pergaulan lawan jenis. Kedua, mengenakan pakaian sesuai ketentuan syari’ah. Ketiga, cerdas dalam menentukan prioritas baik waktu maupun keserasian aktivitas, sehingga terjadi keseimbangan antara peran di dalam keluarga dan di tengah masyarakat. Akhirnya, aktivitas apapun yang disumbangkan oleh anak manusia, laki-laki maupun perempuan tidak lepas dari tujuan utama penciptaan manusia yaitu menyampaikan diri dan masyarakatnya pada kesempurnaan hakiki.

Jika perempuan sudah menempati perannya dengan baik dalam keluarga dan masyarakat maka akan tersirat juga peran tersebut dalam negara. Tidak akan lagi ada anggapan bahwa perempuan hanyalah sebagai mesin pencetak manusia saja, tetapi memang keberadaan perempuan diakui dan berpenggaruh dalam aspek kehidupan masyarakat dan negara. Negara akan menjadi aman dan kokoh jika perempuan yang tinggal dalam negara tersebut baik, tapi jika perempuan yang ada dalam negara tersebut hancur maka hanya tinggal menunggu waktu saja kehancuran negara tersebut.

Senin, 13 April 2009

Ringkasan materi

MEDIA PENGAJARAN

I. PENGERTIAN MEDIA

Gagne dan Briggs (1982) menyatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang digunakan untuk menyampaikan isi metri pelajaran, yang terdiri antara lain buku, tape recorder, kaset, video kamera, vasio recorder, film, slide, foto, gambar, grafik, televisi, dan computer. Dengan kata lain , media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional dilingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Menurut Bruner ada tiga tingkatan utama modus belajar yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial/ gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic).

Gerlanch dan Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media, yaitu :

  1. ciri fiksatif (fixative property), ciri ini mengamba rkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekontruksikan, suatu peristiwa atau objek.

  1. ciri manipulatif (manipulative property),
  2. ciri distributive (distributive property))

II. FUNGSI DAN MEDIA PENDIDIKAN

Fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat Bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.

Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkkitkan keinginan dan minat yang baru, meningkatkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar, dan bahwa membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.

Levie san Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pengjaran, khususnya mediavisual, yaitu :

a. fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk konsentrasi dengan isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

b. fungsi efektif,

c. fungsi kognitif

d. fungsi kompensatoris.

Beberapa menfaat praktis dari penggunaan media pengajaran dalam proses belajarmengajar sebagai berikut:

1. media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan menningkaktkan proses belajar mengajar

2. media pengajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat meningkatkan moyivasi belajar.

3. media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indra ruang.

4. indra pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru.

III. PENGENALAN BEBERAPA MEDIA

Berdasarkan perkembangan teknologi, media pengajarandapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu:

a. media hasil teknologi cetak, yaitu cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti buku daelektronik untuk materi visual statis terutama melalui proses pencetakan mekanis.

b. media hasil audio visual, yaitu cara menghasilkan atau cara menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyampaikan pesan-pesan audio visual.

c. media hasil teknlogi yang berdasarkan computer, merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor.

d. media penggabung teknologi cetak dan computer. Ini merupakan cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa media yang dikendalikan oleh komputer.

Seel dan Glasgow membagi jenis media pada dua kategori luas, yaitu pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir.

1. pilihan media tradisional.

a. visual dalam yang diproyeksikan

- proyeksi apaque

- proyeksi overhead

- slides

- filmtrips

b. visual yang tak diproyeksikan

- gambar poster

- foto

- charts, grafik, diagram

- pameran, papan info, papan bulu

c. audio

- rekaman piringan

- pita-kaset, reel, cartridge

- penyajian multimedia

- slide plus suara

- multi image

d. visual dinamis yang diproyeksikan

- film

- televise

- video

e. cetak

- buku teks

- modul, teks pemograman

- workbook

- majalah ilmiah

- lembar lepas

f. permainan

- teka-teki

- simulasi

- permainan papan

g. realia

- model

- specimen

- manipulatif

2. pilihan media teknologi mutakhir

a. media berbasis telekomunikasi

- teleconference

- kuliah jarak jauh

b. media berbasis mikroprosesor

- computer consisted instruction

- permainan computer

- system tutor intelegen

- interaktif

- hypermedia

- compact disk

IV. PEMILIHAN MEDIA

Pada tingkat yang menyeluruh dan umum pemmilihan media dapat dilakukan dengan mempertimbangkan factor-faktor berikut:

a. hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi factor-faktor dana, fasilitas dan peralatan yang telah tersedia, sumber-sumber yang tersedia.

b. peryaratan isi, tugas dan jenis pembelajaran.

c. hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal, seperti membaca, mengetik dan menggunakan computer.

d. pertimbangan lainnya adalah tingkatan kesenangan dan keefektifan biaya.

e. pemilihan media sebaiknya mempertimbangkan pula:

- kemampuan megakomodasikan penyajian stimulus yang tepat ( visual/audio visual)

- kemampuan mengakomodasikan respons siswa yang tepat ( tertulis, audio atau kegiatan fisik)

- kemampuan mengakomodasikan umpan balik

- pemilihan media utama dan media skunder untuk penyajian informasi atau stimulus.

f. media sekunder harus mendapat perhatian karena pengajaran yang berhasil menggunakan media yang beragam.

Criteria yang patut diperhatikan dalam memilih media, yaitu:

a. sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

b. Tepat mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip aau generalisasi.

c. Praktis, luwes, dan bertahan.

d. Guru trampil menggunakannya.

e. Pengelompokan sasaran.

f. Mutu teknis.

V. PENGGUNAAN MEDIA

1. MEDIA BERBASIS MANUSIA

Media berbasis manusia ini digunakan apabila ingin mengubah anak dan dengan langsung mengawasi perkembangan anak. Media yaitu, rancangan yang berpusat pada masalah dan bertanya ala scorates. Langkah-langkah rancangan jenis pengajaran ini adalah sebagai berikut:

1. merumuskan masalah yang relevan.

2. mengindentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang terkait pada pemecahan masalah.

3. ajarkan mengapa pengetahuan itu penting dan bagaimana pengetahuan itu dapat diterapkan untuk pemecahan masalah

4. tuntutan eksplorasi siswa.

5. kembangkan masalah dalam konteks yang beragam dalam tingkatan kerumitan.

6. nilai pengetahuan siswa dengan memberikan masalah baru untuk dipecahkan.

Salah satu factor penting dalam pengajaran dengan berbasis manusia adalah rancangan pembelajaran yang interaktif.

2. MEDIA BERBASIS CETAKAN

Materi pengajaan berbasis cetakan yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas. Teks berbasis cetakan menuntut enam elemen yang perlu diprhatikan pada saat merancang, yaitu konsistensi, format, organisasi, daya tarik, ukuran huruf, dan penggunaan spasi kosong.

Peerancang pembelajaran ini harus dibuat menjadi lebih interaktif. Pperhatikan pentunjuk berikut:

  1. sajikan informasi dalam jumlah yang selayaknya dapat dicerna, diproses dan dikuasai.
  2. pertimbangkan hasil pengamatan dan analisis kebutuhan siswa
  3. perhatikan hasil analisis analisis respon siswa
  4. siapkan kesempatan bagi siswa untuk dapat belajar sesuai kemampuan dan kecapatan mereka
  5. gunakan beragam jenis latihan.

3. MEDIA BERBASIS VISUAL

Media berbasis visual (image atau perumpamaan) dapat memperlancaar pemahaman dan memperkuat ingatan. Bentuk visual bisa berupa gambar presentasi, diagram, peta, grafik.

4. MEDIA BERBASIS AUDIO VISUAL

Media visual tang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaan penting yang diperllukan dalam media audio visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang bannyak, rancangan dan penelitian.

5. MEDIA BERBASIS KOMPUTER

Computer berperan sebagai meneger dalam proses pembelajaran yang dikenal dengan nama computr manager instruction (CMI) dan ada juga yang berperan sebagai pembantu tambahan dalam belajar. Penggunaan computer sebagai media pembelajaran secara umum mengikuti proses instruksional sebagai berikut:

1) merencanakan, mengatur, mengorganisasikan dan menjadwalkan pengajaran.

2) Mengevaluasi siswa

3) Mengumpulkan data mengenai siswa

4) Melakukan analisis statistic mengenai data pembelajaran

5) Membuat catatan perkembangan pembelajaran.

Format penyajian pesan dalam informasi dalam CAI terdiri atas tutorial terprogram, tutorial intelegen, drill dan practice dan simulasi.

6. PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

Perpustakaan merupakan pusat sarana akademis. Perpustakaan menyediakan bahan-bahan pustaka berupa barang cetakan seperti buku majalah, peta, surat kabar, karya tulis, serta bahan non cetakan seperti film, foto, kaset audio dan lain-lain.

Pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar secara efektif memerlukan keterampilan, sebagai berikut:

  1. keterampilan mengumpulkan informasi
  2. keterampilan mengambil intisari dan mengorganisasikan informasi
  3. keterampilan menganalisis, menginterprestasikan dan mengevalusasi informasi
  4. keterampilan menggunakaninformasi

VI. PENGEMBANGAN MEDIA

MEDIA BERBASIS VISUAL

Visaulisasi pesan, informasi atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar, ilustrasi, sketsa, gambar garis, grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Gambar ilustrasi dibaut hampir menyamai kenyataan dan grafik merupakan responsitas simbolis dan artistic suatu objek atau situasi.

Keberhasilan penggunaan media berbasis visual ditentukan oleh kkualitas dan efektivitas baha-bahan visual dan grafik. Hal ini dapat dicapai dengan mengatur dan mengorganisasikan gagasan-gagasan yang timbul, merencanakan dengan seksama.

Dalam proses pengetahuan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip desain tertentu, anara lain prinsip kesederhanaan, keterpaduan, penekanan dan keseimbangan. Unsur-unsur yang diprhatikan adalah bentuk, garis, ruang, tekstur dan warna.

MEDIA BERBASIS AUDIO-VISUAL

Media berbasis audio visual ini sangat menarik dan memotivasi siswa, materi audio dapat digunakan untuk:

a. mengembangkan keterampilan mendengar dan mengevaluasi apa yang telah didengar.

b. mengatur dan mempersiapkan diskusi

c. menjadikan model yang akan ditiru siswa

d. menyampaikan variasi yang menarik

Contoh dari audio visual yaitu tape recorder dan kombinasi slide dan suara.

MEDIA BERBASIS KOMPUTER

- Tutorial

Program pengajaran tutorial dengan bantuan computer meniru system tutor yang dilakukan oleh guru. Informasi atau pesan berupa konsep disajikan dilayar computer beupa teks, gambar dan grafik. Siswa diperkirakan telah membaca, menginterprestasi dan menyerap konsep, kemudai guru memberikan pertanyaan. Jika siswa menjawab benar maka computer menyajikan materi lanjut tapi jika siswa tidak dapat menjawab maka computer mengulangi materi kembali.

- Drill and practice (latihan)

Ini dilakukan untuk memahirkan keterampilan dan memperkuat penguasaan konsep. Setelah siswa diberi pertanyaan dan ia dapat menjawab pertanyaan itu kemudian computer merekam jawaban tersebut.

- simulasi

simulasi dengan bentuan computer mencoba untik menyampaikan proses dinamis yang terjadi di dunia nyata.

- permainan instruksional

ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Guru merancang permainan yang menarik yang bisa ditayangkan pada computer.

- factor pendukung keberhasilan CAI

- belajar harus menyenangkan

- interaktivitas

MULTIMEDIA BERBASIS KOMPUTER DAN INTERACTIVE VIDEO

Multimedia adalah berbagai macam kombinasi grafik, teks, suara, video, dan animasi. Pengabungan ini merupakan suatu kesatuan yang bersama-sama menampilkan informasi, pesan, atau isi pelajaran. Jenis peralatan yang diperlukan yaitu computer, video, kamera, video casset recorder, overhead projector, multivision atau sejenisnya.

Informasi yang disajikan yaitu berbentuk dokumen yang hidup, dapat dilihat dilayar mmonitor atau ketika diproyeksikan ke layar lebarmelalui overhead projector dan dapat didengar suaranya. Multimedia bertujuan untuk menyajikan materi yang menarik, menyenangkan dan mudah dimengerti.

VII. EVALUASI MEDIA PENGAJARAN

Keefektifan pelaksanaan proses instruksional diukur dari dua aspek, yaitu:

a. bukti-bukti empiris mengenai hasil belajar yang dihasilkan melalui system instruksional

b. bukti-bukti yang menunjukkan berapa banyak kontribusi media atau media program terhadap keberhasilan dan efektifitas proses instruksional itu.

Data empiris yang berkaitan dengan media pengajaran secara umum bersumber dari jawaban terhadap pertanyaan-ppertanyaan :

  1. apakah pengajaran yang digunakan afektif
  2. dapatkah media pengajaran itu diperbaiki dan ditingkatkan?
  3. Apakah media pengajaran itu efektif dari segi biaya dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa?
  4. Criteria yang dipillih untuk memlih media pengajaran itu?
  5. Apakah isi pengajaran sudah tepat disajikan dengan media itu?
  6. Apakah prinsip-prinsip utama penggunaan media yang dipilih telah diterapkan?
  7. Apakah media pengajaran yang dipilih dan digunakan benar-benar menghasilkan hasil belajar yang direncanakan ?
  8. Bagaimana sikap siswa terhadap media pengajaran?

Walker dan Hess memberikan criteria dalam meriviu perangkat lunak media pengajaranya yang berdasarkan kepada kualitas:

  1. kualitas isi dan tujuan

- ketepatan

- kepentingan

- kelengkapan

- keseimbangan

- minat

- keadilan

- kesesuaian dengan situasi siswa

  1. kualitas instruksional

- memberikan kesempatan belajar

- memberikan bantuan untuk belajar

- kualitas motivasi

- vleksibilitas instruksional

- hubungan dengan program pengajaran lainnya

- kualitas social interaksi instruksionalnya

- dapat memberi dampak pada siswa

- dapat memberi dampak pada guru dan pengajaranya

  1. kualitas teknis

- keterbacaan

- mudah digunakan

- kualitas tampilan

- kualitas penanganan jawaban

- kualitas pengolahan programnya

- kualitas pendokumentasiannya

tulisan ini dikutip dari buku karang
Prof. Dr. Azhar Arsad, M.A.

Minggu, 05 April 2009

artikel

Be aMaster of Math

Siapa sih yang bilang kalau matematika itu sulit ? dia, kamu, atau siapa ? Matematika itu menyenangkan dan membuat ketagihan, selain itu bisa membuat orang menjadi gila, kamu pernah lihat kan orang yang kadang tersenyum sendiri karena senang dan puas dapat mengerjakan soal matematikannya…

Sungguh luar bisa sekali jika kamu bisa tersenyum pada malam kamis dan malam minggu dengan matematika, tanpa harus kelayaban kesana kemari, coba deh kamu nikmatin berkencan dengan buku-buku matematika, pasti seru dan menyenangkan.. apalagi jika kamu setiap hari bisa bergandengan mesra dengan buku matematika, alangkah bahagiannya..

Tapi pertanyaan yang timbul sekarang, apa ya ada orang yang sedemikian itu ? pasti ada , tapi siapa? Di mana? Dan seperti apa dia? Tidak perlu jauh-jauh, Katakan saja pada dirimu itu adalah kamu.. kamu pasti bisa menjadi master of math. Yakin deh..

Banyak sekali cara yang bisa digunakan untuk merubah image susahnya belajar matematika menjadi senangnya belajar matematika. Bagi yang merasa matematika itu adalah momok yang mengerikan itu bukan hal yang mudah dan pasti banyak rintangan, tapi yang sudah biasa menyantap hidangan bilangan itu bukan lagi hal yang sulit melainkan bertambah nikmat… dan pasti Mantap…

Dalam meraih mimpi yang sudah kita rangkai bukan lah hal yang mudah perlu beribu energi untuk bisa mengapainya, jadi coba deh kamu simak tips di bawah ini, supaya aku, kamu dan kita semua bisa lebih smart with math..

  1. setiap bangun nak solat subuh, coba lihat kaca dan pandang dirimu adalah seorang ilmuan terkenal, Einstein misalnya, supaya kamu bisa lebih percaya diri dan merasa pintar dan terus belajar.
  2. jadikan buku sebagai sahabat dekat mu, ops.. tapi jangan sampai kamu lupa dengan sahabat lama kamu, maksudnya, kamu harus membawa buku kemana kamu pergi suatu saat kamu pasti terbiasa, awalnya membawa berubah menjadi membaca.
  3. musnahkan rasa bosan dari lubuk hatimu.
  4. jelaskan pada temanmu apa yang telah kamu pelajari.
  5. untuk menghindarkan kemungkinan rasa jenuh, cobalah kolaborasikan matematika dengan hobi kamu. Misalnya jika kamu suka mengambar, coba gambari sela-sela buku kamu sambil belajar, atau jika kamu hobi bernyanyi coba ciptakan lagu matematika baru khusus buat kamu sendiri, atau jika kamu suka mendengar musik cobalah belajar dengan alunan musik kesukaanmu.
  6. bisa ala biasa, coba kamu biasakan mengerjakan minimal 2 soal setiap hari.
  7. yang terahir adalah tetap tersenyum walau sebenarnya kamu pusing tujuh keliling.

Gimana teman-teman..? tertarik mau nyobain g’? jika kamu sudah nyobain maka coyo deh kamu bakalan jadi master of math… semangat ya…





By : Nhei_nick / PMM2 (VI)

metodologi penelitian

BAB I

PENDAHULUAN

Perencanaan penelitian secara definitif dapat diartikan sebagai gambaran secara mendalam tentang proses penelitian yang hendak dilakukan peneliti guna memecahkan permasalahan.

Hal penting dalam tahap awal suatu penelitian adalah adanya masalah yang akan diteliti, masalah itulah yang akan di ramu sebagai rumusan masalah yang akan diteliti. Jjika suatu masalah sudah tersusun dalam rumusan masalah maka selanjutnya adalah kita berusaha menemukan acuan penelitian yaituu yang berupa desain penelitian, desain penelitian inilah yang akan memfokuskan kita pada penelitian dengan masalah-masalah yang akan kita teliti nantinya.

Desain penelitian merupakan bagian dari perencanaan penelitian yang menunjukkan usaha peneliti dalam melihat apakah penelitian yang direncanakan telah memiliki validitas internal dan validitas eksternal yang komprehensif.




BAB II

PERUMUSAN MASALAH DALAM PENELITIAN

A. Pengertian dan Fungsi Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.

Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai-sampai memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri.

Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat, meliputi perumusan masalah deskriptif, apabila tidak menghubungkan antar fenomena, dan perumusan masalah eksplanatoris, apabila rumusannya menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena.

Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu Fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan. Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. Fungsi ketiga dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

B. Kriteria-kriteria Perumusan Masalah

Ada setidak-tidaknya tiga kriteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu kriteria pertama dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan manusaia.

Kriteria Kedua dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.

Kriteria ketiga, adalah bahwa suatu perumusan masalah yang baik, juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia.

Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi, antara lain (1) Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti, (2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian dan (3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.

Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

B. Latar Belakang Masalah

Merumuskan latar belakang penelitian merupakan suatu hal yang penting dalam sebuah penelitian. Dalam latar belakang ini, diuraikan tentang masalah yanga menarik minat yang akan diteliti. Penelitian yang dilakukan haruslah bermanfaat untuk pribadi, masyarakat dan untk perkembangan ilmu pengetahuan. Penelitian yang dilakukan haruslah asli dan masalah yang dipilih belum pernah ada yang meneliti.

Untuk menjadikan sebuah masalah itu sebagai pokok penelitian, perlu dipertimbangkan apakah pemecahannya dapat didasarkan atas data penelitian dan apakah data yang diprlukan itu memeungkinkan untuk dikumpulkan.

Dalam perumusan penelitian, hanya mungkin dilakukan apabila peneliti memiliki bahan apresiasi yang cukup mengenai bidang yang akan diselidikinya. Bahan apresiasi itu tidak saja cukup banyak jumlahnya, tetapi juga harus menyeluruh dan sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi (up to date).

C. Identifikasi Masalah

Makna suatu penelitian sabgat ditentikan oleh sumbangannya dalam pemecahan suatu masalah (problem). Karena pemecahan masalah menjadi referensi dasar dari suatu penelitian, maka segala kegiatan dalam penelitian akan selalu merujuk kepada pemecahan masalah tersebut. Itulah sebabnya dalam laporan penelitian selalu didahului oleh pernyataan mengenai latar belakang masalah.

Masalah itu ada jika terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, cita-cita dengan keadaan yang berjalan, anatara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan.

Mendefenisikan permasalahan berarti mendefenisikan keadaan yang masih dianggap kurang baik dan perlu dibenahi. Masalah yang mesti dipecahkan jumlahnya cukup banyak dan kesemuanya diidentifikasi, dipilih dan dirumuskan oleh peneliti dalam merencanakan sebuah penelitin

  1. Memilih Masalah

Memilih permasalahan yang akan diteliti memang merupakan salah satnlangkah yang sulit dalam perencanaan penelitian forcere dan richter (1973) membuat semacam diagaram untuk menunjukkan hal apa saja yang mempengaruhi pemilihan permasalahan.

Diagram pada gambar 1 mengilustrasikan bahwa seorang peneliti harus memiliki kepekaan social sehingga dapat berhati-hati dalammemilih permasalahan yang mungkin dapt menimbulkan kegoncangan dan kerawanan social karena menyangkut nilai dan norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Kadang-kadang, pertimbangan politikjuga turut membatasi keleluasan penelitian dalam memilih permasalah yang hendak diteliti

Secara umum, masalah penelitian dapat dipilih dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut :

1. apakah masalahnya realtif belum banyak diteliti orang lain?

2. apakah penelitian itu mengundang rasa ingin tahu, baik dalm diri maupun pihak luar yang bakalmembaca atau memnfaatkan hasil penelitian itu?

3. apakah masalah yang dipilih beda dalam ruang lingkup yang dipelajarinya?

4. apakah kemampuan dan latar belakang pendidikan calon peneliti mendukung tujuan-tujuan itu?

5. apakah semua media yang ada, metode serta kondisi yang dipakai memungkinkan terlaksananya penelitian itu?

6. apakah penelitian memiliki waktu yang cukup?

7. apakah ada dana penunjang terhadap penelitian itu?

  1. Perumusan Masalah

Pernyataan hubungan

BAB III

DESAIN PENELITIAN

A. Pengertian

Desain penelitian merupakan landasan atau kerangka dasar yang dijadikan pijakan sekaligus acuan untuk melaksanakan penelitian haru disusun berdasarkan criteria tertntu:

  1. komprehensif, artinya mencakup semua hal yang penting yang berkenaan dengan kegiatan penelitian, misalnya masalah dan latar belakangnya, tujuan dan kegunaanya, definisi operasional, organisasi dan administrasi penelitian.
  2. logis, sistematis, dan praktis, artinya disusun berdasarkan logika dan aturan-aturan tertentu serta memperhatikan kemudahan untuk dilaksanakan atau dengann kaitan harus disesuaikan dengan kesanggupan sipeneliti itu sendiri, baik tenaga, waktu, maupun biaya.

Dalam penelitian kualitatif, bacaan yang luas dan up to date merupakan syarat mutlak yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti guna mendalami teori yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu agar memperoleh desain penelitian yang baik, para paneliti hendaknya perlu memperhatikan beberapa butir penting seperti berikut yaitu:

a. Peneliti hendaknya menaruh minat terhadap tema atau topik yang pada umumnya masih bersifat umum,

b. Masalah diidentifikasi, dan dianalisis untuk menarik pertanyaan pokok atau yang berkaitan dengan fokus permasalahan, c) Peneliti sejak awal hendaknya juga sudah mengetahui key persons yaitu orang –orang yang mempunyai informasi, dan audience yaitu orang-orang atau lembaga yang dapat menggunakan hasil-hasil penelitian,

c. Peneliti hendaknya mengetahui metode yang hendak digunakan agar dapat memilih metode yang sesuai dan dapat memecahkan masalah.



B. unsur-unsur desain penelitian

Walaupun desain penelitian kualitatif dikatakan sebagai desain yang fleksibel, secara empiris, desain penelitian kualitatif pada umumnya mengandung unsur-unsur penting seperti berikut:

1 Menentukan fokus penelitian. Pada unsur ini peneliti berusaha menguraikan latar belakang permasalahan yang hendak dipecahkan, mengindentifikasi phenomena yang menunjukkan realitas permasalahan dan kemudian menentukan fokus penilitan yang memiliki fungsi sebagai guide atau pedoman peneliti ketika melakukan eksplorasi data.

2 Menentukan paradigma penelitian yang sesuai dengan keadaan lapangan. Seperti halnya penelitian kuantitatif, peneliti kualitatif juga dianjurkan menggali landasan teori dari berbagai sumber informasi dan kemudian membangun paradigma penelitian yang sesuai dengan permasalahan yang dimaksud. Sedangkan yang menjadikan bervariasi pendapat diantara peneliti adalah dicantumkannya secara implisit dalam bab dua atau kajian pustaka atau secara integral dimasukkannya sesuai dengan konteks dan komponen penelitian.

3 Menentukan kesesuaian antara paradigma dengan teori yang dikembangkan sehingga peneliti tetap yakin terhdapa kebenarannya karena teori yang dibangun masih saling berkaitan erat dengan paradigma yang dikembangkan.

4 Menentukan sumber data yang dapat digali dari masyarakat yang diteliti. Unsur ini penting bagi peneliti bahwa prinsip berbasah kaki dan berinteraksi dengan responden dapat dilaksanakan dengan benar.

5 Menentukan tahap-tahap penelitian. Tahapan penelitian pada umumnya mencakup langkah-langkah yang secara sistematis direncanakan oleh peneliti, sehingga mereka dapat bergerak dari langkah sat ke langakh lainnya dapat dilkukan secara efisien.

6 Mengembangkan instrumen penelitian. Walaupun peneliti adalah intrumen yang baik, seorang peneliti perlu menuangkan secara tertulis sebagai fungsi pertanggung jawaban, ketika peneliti lain menanyakan proses yang berkaitan erat dengan pengambilan data.

7 Merencanakan pengumpulan data dan pencatatannya, termasuk didalamnya garis besar teknik pengumpulan data yang dipilih agar memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.

8 Rencana analisis data, termasuk tindakan setelah peneliti megumpulkan data dari para responden, melakukan refleksi dan m,enampilkannya untuk menuju peyusunan teori. Analisis data menurut Guba 9198) ini termasuk diantaranya mengkatorisasi data, mengelompokkan sesuai dengan karakteristik ubahan (characterisizing), menilai pengelompokan, dan checking antara anggota peneliti (Member-check)

9 Rencana mencapai tingkat kepercayaan dan kebenaran penelitian, yang didalamnya mencakup bagiaman peneliti melakukan pengembailan data agar memperoleh data yang valid dan releiabel dengan permasalahan yang hendak diteliti.

10 Merencanakan lokasi dan tempat penelitian, lokasi dimana responden berada adalah tempat yang perlu diperhitungkan, sehingga peneliti akan memperoleh informasi dari tangan pertama yaitu orang yang mempunyai informasi.

11 Menghormati etika penelitian, termasuk perhatian peneliti untuk selalu menghormati hak responden, tidak memaksa dan tidak membahayakan posisi responden. Hal responden tersebut dicantumkannya dalam desain untuk meyakinkan bahwa penelitian naturalistik sesuai dengan etika penelitian yang berlaku.

12 Mempersiapkan laporan penulisan dan penyelesaian penelitian. Komponen ini termasuk didalamnya usaha peneliti untuk memperoleh laporan hasil penelitian yang didukung dengan bukti pengambilan data, analisis data dan deseminasi melui peneulisan jurnal maupun artikel yang relevan.

C. prinsip-prinsip desain penelitian

Dalam menyusun desain penelitian kualitatif, para peneliti hendaknya perlu memperhatikan beberapa butir seperti berikut:

1 Desain penelitian kualitatif pada umumnya merupakan desain penelitian yang tidak terinci, fleksibel, timbul dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Hal-hal yang memungkinkan desain penelitian berubah biasanya termasuk: tujuan, subyek, sampel penelitian jika ada, dan sumber data.

2 Lebih bersifat restrospektif yaitu, desain penelitian diketahui secara pasti setelah penelitian selesai. Walaupun misalnya para peneliti mendesain penelitian dibantu dosen pembimbing, hasil penelitian masih bersifata sementara atau adhoc dan masih mungkin berubah sesuai dengan kondisi di lapangan.

3 Desain biasanya tidak mengemukan hipoteses yang perlu di tes, tetapi lebih berupa fokus penelitian yang penekannya sebagai guide atau petunjuk dalam mencari atau mengumpulkan data.

4 Hasil penelitian lebih bersifat terbuka dan tidak membatasi phenomena ke dalam variabel seperti dalam penelitian kuantitatif positivist.

5 Desain penelitian lebih fleksibel dengan langkah-langkah yang tidak dapat dipastikan, disamping juga hasil penelitian tidak dapat diprediksi atau diramalkan.

6 Peneliti melakukan analisis data sejak awal penelitian, bersamaan dengan proses pengumpulan data, bersifat terbuka, open endded dan dilakukan secara induktif.

7 Penggunaan populasi posisinya tidak terlalu perlu. Sampling dapat ditafsirkan sebagai pilihan peneliti terhadap beberapa faktor terkait termasuk: aspek apa dari peritiwa apa, dan siapa ataua apa yang dijadikan fokus dalam penelitian.

8 Sampling lebih cederung menggunakan prinsip non probability sampling (Kerlinger: 1986), yang didalamnya dibedakan menjadi empat macam yaitu a) purposive, b) accidental, c) quota dan d) snow-ball sampling. Penelitian ini disebut sebgai non probabilitas karena lebih banyak tergantung dari pada pilihan peneliti dan juga tujuan penelitian.

9 Instrumen penelitian kualitatif pada umumnya lebih bersifat internal dan subyektif, yang direfleksikan dengan “peneliti sebagai instrumen”. Disamping itu, instrumen penelitian kualitatif mendasarkan pada aspek-aspek seperti berikut termasuk: bersifat khusus, dan berulangkali terjadi, yang berupa paradigma atau thema yang memberikan petunjuk ke arah pembentukan teori.

10 Analisis data lebih bersifat terbuka terhadap perubahan, perbaikan dan penyempurnaan atas dasar data baru yang masuk atau diterima peneliti.

11 Hipoteses tidak dapat dirumuskan pada awal penelitian, karena pada penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran. Hipoteses atau jawaban sementara dalam penelitian kualitatif muncul sepanjang proses penelitian sebagai pedoman dalam menafsirkan dan memaknai data.

12 Statistik tidak terlalu diperlukan dalam pengolahan data dan penafsiran data. Dalam penelitian kualitatif, menganalisis data berarti mencoba memahami makna data secara Verstehin dengan lebih mengutamakan makna yang berasal dari phenomena yang saling berkaitan satu sama lain.

13 Lama penelitian tidak dapat ditentukan sebelumya oleh si peneliti. Pada hakekatnya penelitian kualitatif dapat terus berlangsung sampai pada suatu saat peneliti sudah tidak memperoleh data baru atau telah terjadi pengulangan phenomena, berarti penelitian baru dapat diperbolehkan berhenti.

14 Dalam penelitian kualitatif-naturalistik selalu terjadi kemungkinan peneliti menemukan hal baru (invention) disamping juga penemuan kembali hal-hal tertentu yang sebenarnya dahulu sudah ada atau discovery.

D. KERANGKA DESAIN PENELITIAN

Model desai penelitian dengan sistematika berikut

  1. PENDAHULUAN
  1. latar belakang masalah
  2. indentifikasi masalah
  3. tujuan dan kegunaan penelitian
  4. pertanyaan dan hipotesis penelitian
  5. sistematika laporan penelitian
  1. TINJAUAN TEORITIS DAN EMPIRIS
  2. METODOLOGI PENELITIAN
  1. metode penelitian
  2. tehnik dan alat pengumpulan data
  3. populas dan sample
  4. tehnik pengolahan data
  1. ORGANISASI DAN ADMINISTRASI PENELITIAN
  1. struktur penelitian
  2. jadwal pelaksanaan
  3. rincian biaya