Minggu, 05 April 2009

metodologi penelitian

BAB I

PENDAHULUAN

Perencanaan penelitian secara definitif dapat diartikan sebagai gambaran secara mendalam tentang proses penelitian yang hendak dilakukan peneliti guna memecahkan permasalahan.

Hal penting dalam tahap awal suatu penelitian adalah adanya masalah yang akan diteliti, masalah itulah yang akan di ramu sebagai rumusan masalah yang akan diteliti. Jjika suatu masalah sudah tersusun dalam rumusan masalah maka selanjutnya adalah kita berusaha menemukan acuan penelitian yaituu yang berupa desain penelitian, desain penelitian inilah yang akan memfokuskan kita pada penelitian dengan masalah-masalah yang akan kita teliti nantinya.

Desain penelitian merupakan bagian dari perencanaan penelitian yang menunjukkan usaha peneliti dalam melihat apakah penelitian yang direncanakan telah memiliki validitas internal dan validitas eksternal yang komprehensif.




BAB II

PERUMUSAN MASALAH DALAM PENELITIAN

A. Pengertian dan Fungsi Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.

Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai-sampai memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri.

Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat, meliputi perumusan masalah deskriptif, apabila tidak menghubungkan antar fenomena, dan perumusan masalah eksplanatoris, apabila rumusannya menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena.

Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu Fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan. Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. Fungsi ketiga dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

B. Kriteria-kriteria Perumusan Masalah

Ada setidak-tidaknya tiga kriteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu kriteria pertama dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan manusaia.

Kriteria Kedua dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.

Kriteria ketiga, adalah bahwa suatu perumusan masalah yang baik, juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia.

Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi, antara lain (1) Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti, (2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian dan (3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.

Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

B. Latar Belakang Masalah

Merumuskan latar belakang penelitian merupakan suatu hal yang penting dalam sebuah penelitian. Dalam latar belakang ini, diuraikan tentang masalah yanga menarik minat yang akan diteliti. Penelitian yang dilakukan haruslah bermanfaat untuk pribadi, masyarakat dan untk perkembangan ilmu pengetahuan. Penelitian yang dilakukan haruslah asli dan masalah yang dipilih belum pernah ada yang meneliti.

Untuk menjadikan sebuah masalah itu sebagai pokok penelitian, perlu dipertimbangkan apakah pemecahannya dapat didasarkan atas data penelitian dan apakah data yang diprlukan itu memeungkinkan untuk dikumpulkan.

Dalam perumusan penelitian, hanya mungkin dilakukan apabila peneliti memiliki bahan apresiasi yang cukup mengenai bidang yang akan diselidikinya. Bahan apresiasi itu tidak saja cukup banyak jumlahnya, tetapi juga harus menyeluruh dan sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi (up to date).

C. Identifikasi Masalah

Makna suatu penelitian sabgat ditentikan oleh sumbangannya dalam pemecahan suatu masalah (problem). Karena pemecahan masalah menjadi referensi dasar dari suatu penelitian, maka segala kegiatan dalam penelitian akan selalu merujuk kepada pemecahan masalah tersebut. Itulah sebabnya dalam laporan penelitian selalu didahului oleh pernyataan mengenai latar belakang masalah.

Masalah itu ada jika terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, cita-cita dengan keadaan yang berjalan, anatara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan.

Mendefenisikan permasalahan berarti mendefenisikan keadaan yang masih dianggap kurang baik dan perlu dibenahi. Masalah yang mesti dipecahkan jumlahnya cukup banyak dan kesemuanya diidentifikasi, dipilih dan dirumuskan oleh peneliti dalam merencanakan sebuah penelitin

  1. Memilih Masalah

Memilih permasalahan yang akan diteliti memang merupakan salah satnlangkah yang sulit dalam perencanaan penelitian forcere dan richter (1973) membuat semacam diagaram untuk menunjukkan hal apa saja yang mempengaruhi pemilihan permasalahan.

Diagram pada gambar 1 mengilustrasikan bahwa seorang peneliti harus memiliki kepekaan social sehingga dapat berhati-hati dalammemilih permasalahan yang mungkin dapt menimbulkan kegoncangan dan kerawanan social karena menyangkut nilai dan norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Kadang-kadang, pertimbangan politikjuga turut membatasi keleluasan penelitian dalam memilih permasalah yang hendak diteliti

Secara umum, masalah penelitian dapat dipilih dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut :

1. apakah masalahnya realtif belum banyak diteliti orang lain?

2. apakah penelitian itu mengundang rasa ingin tahu, baik dalm diri maupun pihak luar yang bakalmembaca atau memnfaatkan hasil penelitian itu?

3. apakah masalah yang dipilih beda dalam ruang lingkup yang dipelajarinya?

4. apakah kemampuan dan latar belakang pendidikan calon peneliti mendukung tujuan-tujuan itu?

5. apakah semua media yang ada, metode serta kondisi yang dipakai memungkinkan terlaksananya penelitian itu?

6. apakah penelitian memiliki waktu yang cukup?

7. apakah ada dana penunjang terhadap penelitian itu?

  1. Perumusan Masalah

Pernyataan hubungan

BAB III

DESAIN PENELITIAN

A. Pengertian

Desain penelitian merupakan landasan atau kerangka dasar yang dijadikan pijakan sekaligus acuan untuk melaksanakan penelitian haru disusun berdasarkan criteria tertntu:

  1. komprehensif, artinya mencakup semua hal yang penting yang berkenaan dengan kegiatan penelitian, misalnya masalah dan latar belakangnya, tujuan dan kegunaanya, definisi operasional, organisasi dan administrasi penelitian.
  2. logis, sistematis, dan praktis, artinya disusun berdasarkan logika dan aturan-aturan tertentu serta memperhatikan kemudahan untuk dilaksanakan atau dengann kaitan harus disesuaikan dengan kesanggupan sipeneliti itu sendiri, baik tenaga, waktu, maupun biaya.

Dalam penelitian kualitatif, bacaan yang luas dan up to date merupakan syarat mutlak yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti guna mendalami teori yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu agar memperoleh desain penelitian yang baik, para paneliti hendaknya perlu memperhatikan beberapa butir penting seperti berikut yaitu:

a. Peneliti hendaknya menaruh minat terhadap tema atau topik yang pada umumnya masih bersifat umum,

b. Masalah diidentifikasi, dan dianalisis untuk menarik pertanyaan pokok atau yang berkaitan dengan fokus permasalahan, c) Peneliti sejak awal hendaknya juga sudah mengetahui key persons yaitu orang –orang yang mempunyai informasi, dan audience yaitu orang-orang atau lembaga yang dapat menggunakan hasil-hasil penelitian,

c. Peneliti hendaknya mengetahui metode yang hendak digunakan agar dapat memilih metode yang sesuai dan dapat memecahkan masalah.



B. unsur-unsur desain penelitian

Walaupun desain penelitian kualitatif dikatakan sebagai desain yang fleksibel, secara empiris, desain penelitian kualitatif pada umumnya mengandung unsur-unsur penting seperti berikut:

1 Menentukan fokus penelitian. Pada unsur ini peneliti berusaha menguraikan latar belakang permasalahan yang hendak dipecahkan, mengindentifikasi phenomena yang menunjukkan realitas permasalahan dan kemudian menentukan fokus penilitan yang memiliki fungsi sebagai guide atau pedoman peneliti ketika melakukan eksplorasi data.

2 Menentukan paradigma penelitian yang sesuai dengan keadaan lapangan. Seperti halnya penelitian kuantitatif, peneliti kualitatif juga dianjurkan menggali landasan teori dari berbagai sumber informasi dan kemudian membangun paradigma penelitian yang sesuai dengan permasalahan yang dimaksud. Sedangkan yang menjadikan bervariasi pendapat diantara peneliti adalah dicantumkannya secara implisit dalam bab dua atau kajian pustaka atau secara integral dimasukkannya sesuai dengan konteks dan komponen penelitian.

3 Menentukan kesesuaian antara paradigma dengan teori yang dikembangkan sehingga peneliti tetap yakin terhdapa kebenarannya karena teori yang dibangun masih saling berkaitan erat dengan paradigma yang dikembangkan.

4 Menentukan sumber data yang dapat digali dari masyarakat yang diteliti. Unsur ini penting bagi peneliti bahwa prinsip berbasah kaki dan berinteraksi dengan responden dapat dilaksanakan dengan benar.

5 Menentukan tahap-tahap penelitian. Tahapan penelitian pada umumnya mencakup langkah-langkah yang secara sistematis direncanakan oleh peneliti, sehingga mereka dapat bergerak dari langkah sat ke langakh lainnya dapat dilkukan secara efisien.

6 Mengembangkan instrumen penelitian. Walaupun peneliti adalah intrumen yang baik, seorang peneliti perlu menuangkan secara tertulis sebagai fungsi pertanggung jawaban, ketika peneliti lain menanyakan proses yang berkaitan erat dengan pengambilan data.

7 Merencanakan pengumpulan data dan pencatatannya, termasuk didalamnya garis besar teknik pengumpulan data yang dipilih agar memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.

8 Rencana analisis data, termasuk tindakan setelah peneliti megumpulkan data dari para responden, melakukan refleksi dan m,enampilkannya untuk menuju peyusunan teori. Analisis data menurut Guba 9198) ini termasuk diantaranya mengkatorisasi data, mengelompokkan sesuai dengan karakteristik ubahan (characterisizing), menilai pengelompokan, dan checking antara anggota peneliti (Member-check)

9 Rencana mencapai tingkat kepercayaan dan kebenaran penelitian, yang didalamnya mencakup bagiaman peneliti melakukan pengembailan data agar memperoleh data yang valid dan releiabel dengan permasalahan yang hendak diteliti.

10 Merencanakan lokasi dan tempat penelitian, lokasi dimana responden berada adalah tempat yang perlu diperhitungkan, sehingga peneliti akan memperoleh informasi dari tangan pertama yaitu orang yang mempunyai informasi.

11 Menghormati etika penelitian, termasuk perhatian peneliti untuk selalu menghormati hak responden, tidak memaksa dan tidak membahayakan posisi responden. Hal responden tersebut dicantumkannya dalam desain untuk meyakinkan bahwa penelitian naturalistik sesuai dengan etika penelitian yang berlaku.

12 Mempersiapkan laporan penulisan dan penyelesaian penelitian. Komponen ini termasuk didalamnya usaha peneliti untuk memperoleh laporan hasil penelitian yang didukung dengan bukti pengambilan data, analisis data dan deseminasi melui peneulisan jurnal maupun artikel yang relevan.

C. prinsip-prinsip desain penelitian

Dalam menyusun desain penelitian kualitatif, para peneliti hendaknya perlu memperhatikan beberapa butir seperti berikut:

1 Desain penelitian kualitatif pada umumnya merupakan desain penelitian yang tidak terinci, fleksibel, timbul dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Hal-hal yang memungkinkan desain penelitian berubah biasanya termasuk: tujuan, subyek, sampel penelitian jika ada, dan sumber data.

2 Lebih bersifat restrospektif yaitu, desain penelitian diketahui secara pasti setelah penelitian selesai. Walaupun misalnya para peneliti mendesain penelitian dibantu dosen pembimbing, hasil penelitian masih bersifata sementara atau adhoc dan masih mungkin berubah sesuai dengan kondisi di lapangan.

3 Desain biasanya tidak mengemukan hipoteses yang perlu di tes, tetapi lebih berupa fokus penelitian yang penekannya sebagai guide atau petunjuk dalam mencari atau mengumpulkan data.

4 Hasil penelitian lebih bersifat terbuka dan tidak membatasi phenomena ke dalam variabel seperti dalam penelitian kuantitatif positivist.

5 Desain penelitian lebih fleksibel dengan langkah-langkah yang tidak dapat dipastikan, disamping juga hasil penelitian tidak dapat diprediksi atau diramalkan.

6 Peneliti melakukan analisis data sejak awal penelitian, bersamaan dengan proses pengumpulan data, bersifat terbuka, open endded dan dilakukan secara induktif.

7 Penggunaan populasi posisinya tidak terlalu perlu. Sampling dapat ditafsirkan sebagai pilihan peneliti terhadap beberapa faktor terkait termasuk: aspek apa dari peritiwa apa, dan siapa ataua apa yang dijadikan fokus dalam penelitian.

8 Sampling lebih cederung menggunakan prinsip non probability sampling (Kerlinger: 1986), yang didalamnya dibedakan menjadi empat macam yaitu a) purposive, b) accidental, c) quota dan d) snow-ball sampling. Penelitian ini disebut sebgai non probabilitas karena lebih banyak tergantung dari pada pilihan peneliti dan juga tujuan penelitian.

9 Instrumen penelitian kualitatif pada umumnya lebih bersifat internal dan subyektif, yang direfleksikan dengan “peneliti sebagai instrumen”. Disamping itu, instrumen penelitian kualitatif mendasarkan pada aspek-aspek seperti berikut termasuk: bersifat khusus, dan berulangkali terjadi, yang berupa paradigma atau thema yang memberikan petunjuk ke arah pembentukan teori.

10 Analisis data lebih bersifat terbuka terhadap perubahan, perbaikan dan penyempurnaan atas dasar data baru yang masuk atau diterima peneliti.

11 Hipoteses tidak dapat dirumuskan pada awal penelitian, karena pada penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran. Hipoteses atau jawaban sementara dalam penelitian kualitatif muncul sepanjang proses penelitian sebagai pedoman dalam menafsirkan dan memaknai data.

12 Statistik tidak terlalu diperlukan dalam pengolahan data dan penafsiran data. Dalam penelitian kualitatif, menganalisis data berarti mencoba memahami makna data secara Verstehin dengan lebih mengutamakan makna yang berasal dari phenomena yang saling berkaitan satu sama lain.

13 Lama penelitian tidak dapat ditentukan sebelumya oleh si peneliti. Pada hakekatnya penelitian kualitatif dapat terus berlangsung sampai pada suatu saat peneliti sudah tidak memperoleh data baru atau telah terjadi pengulangan phenomena, berarti penelitian baru dapat diperbolehkan berhenti.

14 Dalam penelitian kualitatif-naturalistik selalu terjadi kemungkinan peneliti menemukan hal baru (invention) disamping juga penemuan kembali hal-hal tertentu yang sebenarnya dahulu sudah ada atau discovery.

D. KERANGKA DESAIN PENELITIAN

Model desai penelitian dengan sistematika berikut

  1. PENDAHULUAN
  1. latar belakang masalah
  2. indentifikasi masalah
  3. tujuan dan kegunaan penelitian
  4. pertanyaan dan hipotesis penelitian
  5. sistematika laporan penelitian
  1. TINJAUAN TEORITIS DAN EMPIRIS
  2. METODOLOGI PENELITIAN
  1. metode penelitian
  2. tehnik dan alat pengumpulan data
  3. populas dan sample
  4. tehnik pengolahan data
  1. ORGANISASI DAN ADMINISTRASI PENELITIAN
  1. struktur penelitian
  2. jadwal pelaksanaan
  3. rincian biaya


Tidak ada komentar: